
“allahuakbar…..allahuakbar” suara adzan subuh
membangunkan tidurku yang lelap. Segera ku bangun mengambil air wudhu dan
menjalankan sholat subuh di Masjid.
“Putri….Putri”
dari luar ku dengar suara Lia sudah memanggilku, dia adalah sahabatku dari
kecil.
“iya,
sebentar” sahutku
Tak
lama, aku keluar dari rumah sederhanaku dengan membawa sajadah dan memakai
mukena. Aku pun berpamitan dengan ibu,
“assalamu’alaikum” aku dan Lia bersamaan
“wa’alaikumsalam”
jawab ibuku
Aku
berangkat dengan jalan kaki, karena jarak dari rumahku tak begitu jauh. Begitu
juga dengan Lia, sahabatku. Dari dulu kami dibiasakan untuk sholat berjamaah di
Masjid. Tak heran, masjid di desa kami tak pernah sepi.
“put,
nanti habis sholat subuh kita ke Taman yukk….” ajak Lia mengajakku bicara agar
rasa ngantukku hilang.
“ke
taman? Boleh, hari ini kan hari Minggu…” sahutku cepat
¯
Sesampainya di taman , ku melihat matahari yang
menyongsong bagaikan sesuatu yang keluar dari sarangnya. Cahayanya menerobos
celah-celah pohon di depanku, sinarnya yang begitu tajam sehingga tak mampu
membuat mataku menatapnya. Taman ini memang terletak agk tinggi dari daerah
lain.
Sesampainya
di taman itu…………….
“subhanallah”
aku dan Lia tercengang
“indahnya….
thankz sobat” kataku
“yacchh…
memang indah” jawabnya
“tempat
ini memang indah, setiap ada masalah atau apapun datanglah ke tempat ini,
tempat ini memberikan ketenangan” jelasnya
Setelah
beberapa saat menikmati indahnya terbit matahari, aku mengajak pulang Lia.
“pulang
yukk….”ajakku
“emmm……
baiklahh” jawab Lia seakan tak mau meninggalkan tempat ini.
Sesampainya di rumah, ku melepas mukena dan segera
menuju dapur. Seperti biasa aku membantu ibu memasak, karena setiap hari Minggu
ibuku menjual bermacam-macam sayur yang sudah masak untuk menambah penghasilan.
Selain hari Minggu, ibuku bekerja sebagai penjahit. Aku mempersiapkan meja di
depan rumahku, dan menata sayuran yang sudah dimasak di atas meja. Setelah
selesai, aku dan ibu bersiap melayani pembeli. Tak lama pembeli pertama datang,
diikuti oleh beberapa orang hingga dagangannya habis.
“Alhamdulillah,
hari ini rezeki ibu lebih” rasa bersyukur ibu
“iya,
uangnya bisa di tabung” kataku
Hari
mulai petang, q bersiap pergi ke Masjid untuk menjalankan sholat maghrib dan
isya’. Usai sholat isya’ aku mempersiapkan untuk sekolah besuk. Menyetelika
baju seragam, menjadwal pelajaran, dan belajar. Aku dan Lia akan menempuh ujian
nasional, karena saat ini kita duduk di bangku kelas 6 di SD Mekar Sari.
¯
Setiap pagi, aku dan Lia selalu bersama berangkat
sekolah. Bahkan dimanapun, kami sudah seperti saudara. Kami mempunyai sebuah
boneka, yang sama sebagai tanda persahabatan kami dan juga banyak momen penting
yang kami abadikan lewat foto. Orangtua kami juga sangat dekat, mereka sering
mengajak kami pergi bersama.
Tak
terasa waktu begitu cepat berlalu, hingga waktu ujian nasional pun tinggal satu
minggu lagi. Aku dan Lia sering belajar bersama. Latihan soal, try out, ujian
sekolah, ujian praktek telah kami lalui untuk mengasah otak kami.
Waktu
berjalan dengan cepat, hingga hari pertama ujian pun tiba.
“li,
aku tegang yaa…” kataku dengan hati tak tenang
“tenanglah
sobat, kita kan sudah maksimalkan belajar dan banyak latihan pasti bisa” jawab
Lia sambil menepuk pundakku.
“haaaaaahhhhh…baiklah….”
Aku menghela nafas panjang
“SEMANGAT”
aku dan Lia saling memberi semangat
¯
Tiga hari kami hadapi dengan penuh semangat,
ketelitian, dan kejernihan pikiran. Walaupun dilalui dengan ketegangan,
hasilnya akan kami dapatkan tak lama lagi.
Waktu berjalan, hingga pengumuman kelulusan tiba.
Aku dan Lia menunggu kedatangan orangtua kami di depan rumah kami yang
kebetulan bersebelahan. Nampak dari kejauhan, dua orang laki-laki berbaju
batik, bercelana hitam, dan menenteng sebuah kertas yang kami tunggu. Kami
mulai merasa takut, tegang, tidak sabar untuk segera mengetahuinya. Mereka
semakin mendekat, semakin jelas, dan semakin yakin bahwa mereka orangtuaku dan
Lia. Hanyalah doa, harapan, dan tawakal yang dapat kami lakukan.
Tak
lama ayahku berada di depanku, dan tanpa bereksprei apapun.
“wah,
pasti aku mengecewakan ” kataku dalam hati
“bagaimana
yah” tanyaku pelan
Ayah langsung memberikan sebuah amplop putih yang
berisi pengumuman kelulusan, lalu masuk dalam rumah. Begitu juga dengan ayah
Lia. Kemudian kami membuka amplop itu bersamaan .
“bismillahirrahmanirrahim”
aku dan Lia membukanya dengan membaca basmalah
Degup
jantung mulai berdetak kencang, tangan gemetaran juga terlihat, keringat mulai
bercucuran. Namun, rasa itu seketika hilang ketika kami membaca dengan
bersamaan kata…….
“LULUS”
betapa bahagianya kami, tangis haru, pelukan kebahagiaan, dan perjuangan yang
tak sia-sia. Usai kejadian itu, aku dan Lia bergegas masuk rumah dan memeluk
kedua orangtua kami.
Betapa senangnya hatiku membuat kedua orangtua bahagia,
ibuku pun membuat makanan kesukaanku, nasi goreng pedas dengan suwiran ayam
goreng dan irisan timun di atasnya. Aku mensyukuri apa yang terjadi hari ini
karena dapat berbahagia bersama dengan sahabatku. J
¯
Keesokan harinya, aku di ajak Lia ke tempat biasa,
yaitu Taman. Sesampainya di sana, Lia sudah duduk di kursi yang berada di bawah
pohon besar. Aku merasa aneh dengan Lia, raut wajahnya seakan akan menyampaikan
sesuatu yang sangat penting. Aku menghampirinya dan menyapanya “hay”…, iya pun
menjawab dengan lesu “hay”.
“kenapa
dengan wajahmu hari ini, seperti belum di seterika” kataku sedikit meledek
“ahh…kamu
bisa aja” jawabnya dengan lesu
“ada
masalah?” tanyaku
“jadi……”
Lia tak meneruskan kata-katanya
“kenapa,
cerita aja sama aku” ajakku
“sebenarnya
aku tidak ingin ini terjadi, aku mau pindah di daerah Bandung karena orangtuaku
ditugaskan bekerja di sana. Pasti aku akan kangen sekali denganmu, sahabatku”
jelasnya
“pindah??
“ L
Keadaan mulai terlarut dalam kesedihan, berluluran
air mata karena harus berpisah dengan sahabat yang membuat hidupku berarti.
Kami saling berpelukan, seakan berpisah selamanya. Bagaimanapun juga kami
selalu bersama, dalam suka dan duka, sebagai tempat curhat, dapatkan sebuah
kasih sayang yang abadi.
“apakah
kamu akan kembali?” tanyaku sambil menatap wajahnya
“aku
tak tau”jawabnya
“andai
ada jalan agar kamu tidak ikut pindah, pasti akan aku usahakan” kataku
“sudahlah,
keputusan orangtuaku sudah bulat, jangan bersedih sobat suatu saat nanti pasti
kita akan bertemu lagi” jelasnya, menenangkanku
Aku
harus menerima keputusan sabahatku ini, mungkin ini jalan dari Tuhan yang
mungkin akan ada hikmah dari semua ini.
¯
Kini aku duduk di bangku SMP tetapi tidak bersama
Lia lagi. Meskipun begitu, aku yakin suatu saat pasti aku bisa bertemu lagi
dengan Lia. Aku sekolah di SMP Marga Jaya yang tak begitu jauh dari
rumahku.sekarang, aku pergi sekolah tidak jalan kaki, tetapi dengan sepeda mini
berwarna hijau yang disertai dengan keranjang didepannya. Dengan bel yang ku
bunyikan setiap di persimpangan jalan “kring kring kring”
Pertama ku memasuki sekolah, aku melihat ada seorang
cowok yang tampan. Biasa anak SMP jatuh cinta, tapi sering disebut cinta
monyet. Memang aku belum mengenalnya, tapi tak ku sangka aku satu kelas
dengannya. Aku masuk di kelas 7B, dan aku juga sudah mempunyai teman. Pelajaran
pertama kali pasti berkenalan, satu persatu siswa memperkenalkan diri di depan
kelas.
“perkenalkan
nama saya aditya, saya berasal dari SD
Pelita Bangsa” perkenalannya di depan kelas
“suara
nya bagus banget” kata dalam hati sambil senyum-senyum sendiri J
Degup jantungku berdegup kencang, bayangannya selalu
ada dalam benak dan pikiranku. Lama-kelamaan aku pun mulai mengenalnya, orangnya
baik, asyik, peduli terhadap sesama, rajin, dll. Tak heran jika aku sering
bertemu dengannya di Perpustakaan, kami memiliki hobi yang sama yaitu membaca.
Setiap ujian kenaikan kelas, aku duduk satu meja dengannya tetapi dengan kode
soal yang berbeda. Sebelum ujian di mulai, ia suka menggodaku dengan memberikan
sebuah permen padahal tinggal bungkusnya saja.
“huy,
mau permen?” katanya padaku sambil mengulurkan sebuh permen
“boleh”
kataku senang
Setelah
ku ambil “uhh dasar ini kan tinggal bungkusnya” kataku dengan wajah manyun
“hahahahahahaha”
dia tertawa lepas
“tapi,tak
apa aku senang melihatnya tertawa seperti itu” kataku dalam hati
Selain itu, setiap ujian pasti ada kejadian-kejadian
yang unik misalnya penghapus. Ia selalu mengambil penghapusku padahal
penghapusnya belum dikeluarkannya. Mungkin ini memang biasa saja, tapi bagiku
ini adalah kenangan yang mungkin tak dapat ku lupakan.
¯
Tiga tahun sudah aku satu kelas dengannya. Kini aku melupakan
sejenak tentang perasaanku dan focus pada Ujian Nasional yang sebentar lagi ku
hadapi. Waktu berjalan cepat, hingga akhirnya Ujian nasional berlangsung dan
hasilnya juga membanggakan. Alhamdulillah aku bisa meneruskan sekolah ku ke
jenjang selanjutnya.
Kini, aku sekolah di SMA N 25 yang lumayan jauh dari
rumahku. Hari pertama pendaftaran dari kejauhan ku lihat seorang cowok yang tak
asing bagiku. Badannya yang agak tinggi, rambut jambulnya yang khas, dan gaya
berjalan yang ku yakini itu adalah Aditya. Tak ku sangka aku satu sekolah lagi
dengan cowok yang selama ini ku suka. Hingga akhirnya aku melihat pengumuman
penerimaan siswa dan ternyata aku satu kelas dengan Adit.
1 bulan sudah aku berada di sekolah ini, hingga
suatu hari ada murid baru di kelasku. Dan yang membuatku terkejut adalah murid
baru itu sahabatku yang sudah 3 tahun berpisah. Betapa bahagianya aku, dapat
bertemu lagi dengannya. Lega rasanya bisa bersatu lagi dengan sahabatku. Aku,
Lia, dan Adit memiliki hobi yang sama yaitu membaca. Jadi tak heran jika kami
bertiga se.lalu bersama, termasuk di perpustakaan. Berbulan-bulan sudah
berlalu, hingga kami bertiga sudah saling mengerti sikap dan karakter
masing-masing. Bagiku, bisa berteman atau bersahabat adalah suatu hal yang berharga.
Kebahagiaan, kebersamaan, dan kekompakan kami
bertiga tak selalu berjalan lurus. Suatu hari semua itu menjadi sebuah
perpecahan, saling tak kenal, bahkan tak saling bicara. Semua itu terjadi
karena ada cinta segitiga antara aku, Lia, dan Adit (biasa anak SMA). Diam-diam
Adit memiliki perasaan dengan ku. Dari dulu aku memang suka dengan Adit, tapi
entah bagaimana rasanya setelah mengetahui bahwa sahabatku juga menyukainya.
Lia menjauhiku karena masalah ini, bahkan bicara saja tidak. Berhari-hari aku
berpikir tentang masalah ini, hingga aku memutuskan untuk menghapus perasaan
ini pada Adit demi sahabatku.
Di dalam kamarnya, Lia pun merenung memikirkan
masalah ini. Katanya dalam hati. Mungkin sebaiknya aku mengalah saja demi
sahabatku, sahabat yang selama ini menjadi orangtua kedua ku lebih penting daripada
memikirkan ebahagian diri sendiri. Dan ku lihat sepertinya Adit juga suka
dengan Putri.(Lia mulai menyadarinya)
¯
Keesokan harinya aku berangkat sekolah seperti
biasa. Di atas mejaku terlihat sebuah kertas putih, seperti sepucuk surat. Yang
ternyata dari Lia yang ingin bertemu di Taman Sekolah sepulang sekolah.
“Ini
kesempatanku untuk meminta maaf pada Lia” gumamku
“tetttttttttt…….”
bel pulang sekolah berbunyi
Ku lihat Lia keluar kelas lebih awal, segera ku
menyusulnya. Sesampainya disana ku bertemu dengan Adit. Kami tak mengerti
maksud semua ini. Tak ku lihat sosok Lia di sana. Pertanyaan-pertanyaan muncul
dalam benakku, sebenarya ada apa ini? Dari kejauhan ku lihat sosok Lia yang
berjalan menuju arahku dan Adit. Melihat gerak-geriknya seperti ada sesuatu
yang penting. Teringat ketika Lia bicara padaku bahwa ia akan pindah,
perasaanku mulai tak tenang.
“huy”sapanya
sambil tersenyum
“huy”
jawabku dan Adit
“udahlah
jangan diam-diaman kayak gini, kan jadi tak enak suasananya” katanya membuat
kami lebih tenang
“emmm…..sebelumnya
aku minta maaf pada kalian berdua” katanya pelan
”soal
apa?” jawabku dan Adit serentak
“kalian
pasti tau kan maksudku?” kata Lia sambil memandang kami
“Adit,
sebenarnya aku memang suka sama kamu. Tapi apa artinya jika cinta itu bertepuk
sebelah tangan dan memecahkan sebuah persahabatan” jelasnya
“Putri
sebenarnya suka sama kamu, begitu juga denganmu kan Adit?” tanya Lia pada Adit
“kalian
saling jujur aja, bukankah itu lebih baik?”jelasnya lagi
(Kata-kata
Lia membuatku dan Adit tak dapat bicara)
“Putri,
sebenarya apa yang dikatakan Lia itu benar bahwa aku suka sama kamu” tiba-tiba
Adit bicara
“udah,
put terima aja” kata Lia sambil menyenggolku
“ta…tapi
kamu??” tanyaku
“udah,
masih banyak kok cowok yang lain, hehehe” jawab Lia sambil tertawa
“emm
iya deh” jawabku menerima Adit
Sejak saat itu kami bersatu lagi, aku bersyukur
memilki sahabat seperti Lia. Mungkin di tempat lain, tak ada yang seperti Lia
sahabatku ini. Kejadian hari ini benar-benar memberiku sebuah pelajaran.
Pelajaran yang berharga bahwa seorang sahabat sejati mampu mengorbankan
perasaannya demi sahabatnya. Dan melihat orang yang di cintainya bahagia dengan
sahabatnya. Kebahagiaan yang luar biasa, bisa bersama orang yang di cintai
dengan tetap menyertai persahabatan di dalamnya.
*****SELESAI*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar