Sabtu, 12 Mei 2012

CERPEN


CINTA DAN PERSAHABATAN

“allahuakbar…..allahuakbar” suara adzan subuh membangunkan tidurku yang lelap. Segera ku bangun mengambil air wudhu dan menjalankan sholat subuh di Masjid.
“Putri….Putri” dari luar ku dengar suara Lia sudah memanggilku, dia adalah sahabatku dari kecil.
“iya, sebentar” sahutku
Tak lama, aku keluar dari rumah sederhanaku dengan membawa sajadah dan memakai mukena. Aku pun berpamitan dengan ibu,
 “assalamu’alaikum” aku dan Lia bersamaan
“wa’alaikumsalam” jawab ibuku
Aku berangkat dengan jalan kaki, karena jarak dari rumahku tak begitu jauh. Begitu juga dengan Lia, sahabatku. Dari dulu kami dibiasakan untuk sholat berjamaah di Masjid. Tak heran, masjid di desa kami tak pernah sepi.
“put, nanti habis sholat subuh kita ke Taman yukk….” ajak Lia mengajakku bicara agar rasa ngantukku hilang.
“ke taman? Boleh, hari ini kan hari Minggu…” sahutku cepat
¯   
Sesampainya di taman , ku melihat matahari yang menyongsong bagaikan sesuatu yang keluar dari sarangnya. Cahayanya menerobos celah-celah pohon di depanku, sinarnya yang begitu tajam sehingga tak mampu membuat mataku menatapnya. Taman ini memang terletak agk tinggi dari daerah lain.
Sesampainya di taman itu…………….
“subhanallah” aku dan Lia tercengang
“indahnya…. thankz sobat” kataku
“yacchh… memang indah” jawabnya
“tempat ini memang indah, setiap ada masalah atau apapun datanglah ke tempat ini, tempat ini memberikan ketenangan” jelasnya
Setelah beberapa saat menikmati indahnya terbit matahari, aku mengajak pulang Lia.
“pulang yukk….”ajakku
“emmm…… baiklahh” jawab Lia seakan tak mau meninggalkan tempat ini.
Sesampainya di rumah, ku melepas mukena dan segera menuju dapur. Seperti biasa aku membantu ibu memasak, karena setiap hari Minggu ibuku menjual bermacam-macam sayur yang sudah masak untuk menambah penghasilan. Selain hari Minggu, ibuku bekerja sebagai penjahit. Aku mempersiapkan meja di depan rumahku, dan menata sayuran yang sudah dimasak di atas meja. Setelah selesai, aku dan ibu bersiap melayani pembeli. Tak lama pembeli pertama datang, diikuti oleh beberapa orang hingga dagangannya habis.
“Alhamdulillah, hari ini rezeki ibu lebih” rasa bersyukur ibu
“iya, uangnya bisa di tabung” kataku
Hari mulai petang, q bersiap pergi ke Masjid untuk menjalankan sholat maghrib dan isya’. Usai sholat isya’ aku mempersiapkan untuk sekolah besuk. Menyetelika baju seragam, menjadwal pelajaran, dan belajar. Aku dan Lia akan menempuh ujian nasional, karena saat ini kita duduk di bangku kelas 6 di SD Mekar Sari.
¯   
Setiap pagi, aku dan Lia selalu bersama berangkat sekolah. Bahkan dimanapun, kami sudah seperti saudara. Kami mempunyai sebuah boneka, yang sama sebagai tanda persahabatan kami dan juga banyak momen penting yang kami abadikan lewat foto. Orangtua kami juga sangat dekat, mereka sering mengajak kami pergi bersama.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, hingga waktu ujian nasional pun tinggal satu minggu lagi. Aku dan Lia sering belajar bersama. Latihan soal, try out, ujian sekolah, ujian praktek telah kami lalui untuk mengasah otak kami.

Waktu berjalan dengan cepat, hingga hari pertama ujian pun tiba.
“li, aku tegang yaa…” kataku dengan hati tak tenang
“tenanglah sobat, kita kan sudah maksimalkan belajar dan banyak latihan pasti bisa” jawab Lia sambil menepuk pundakku.
“haaaaaahhhhh…baiklah….” Aku menghela nafas panjang
“SEMANGAT” aku dan Lia saling memberi semangat
¯   
Tiga hari kami hadapi dengan penuh semangat, ketelitian, dan kejernihan pikiran. Walaupun dilalui dengan ketegangan, hasilnya akan kami dapatkan tak lama lagi.
Waktu berjalan, hingga pengumuman kelulusan tiba. Aku dan Lia menunggu kedatangan orangtua kami di depan rumah kami yang kebetulan bersebelahan. Nampak dari kejauhan, dua orang laki-laki berbaju batik, bercelana hitam, dan menenteng sebuah kertas yang kami tunggu. Kami mulai merasa takut, tegang, tidak sabar untuk segera mengetahuinya. Mereka semakin mendekat, semakin jelas, dan semakin yakin bahwa mereka orangtuaku dan Lia. Hanyalah doa, harapan, dan tawakal yang dapat kami lakukan.
Tak lama ayahku berada di depanku, dan tanpa bereksprei apapun.
“wah, pasti aku mengecewakan ” kataku dalam hati
“bagaimana yah” tanyaku pelan
Ayah langsung memberikan sebuah amplop putih yang berisi pengumuman kelulusan, lalu masuk dalam rumah. Begitu juga dengan ayah Lia. Kemudian kami membuka amplop itu bersamaan .
“bismillahirrahmanirrahim” aku dan Lia membukanya dengan membaca basmalah
Degup jantung mulai berdetak kencang, tangan gemetaran juga terlihat, keringat mulai bercucuran. Namun, rasa itu seketika hilang ketika kami membaca dengan bersamaan kata…….
“LULUS” betapa bahagianya kami, tangis haru, pelukan kebahagiaan, dan perjuangan yang tak sia-sia. Usai kejadian itu, aku dan Lia bergegas masuk rumah dan memeluk kedua orangtua kami.
Betapa senangnya hatiku membuat kedua orangtua bahagia, ibuku pun membuat makanan kesukaanku, nasi goreng pedas dengan suwiran ayam goreng dan irisan timun di atasnya. Aku mensyukuri apa yang terjadi hari ini karena dapat berbahagia bersama dengan sahabatku. J
¯   
Keesokan harinya, aku di ajak Lia ke tempat biasa, yaitu Taman. Sesampainya di sana, Lia sudah duduk di kursi yang berada di bawah pohon besar. Aku merasa aneh dengan Lia, raut wajahnya seakan akan menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Aku menghampirinya dan menyapanya “hay”…, iya pun menjawab dengan lesu “hay”.
“kenapa dengan wajahmu hari ini, seperti belum di seterika” kataku sedikit meledek
“ahh…kamu bisa aja” jawabnya dengan lesu
“ada masalah?” tanyaku
“jadi……” Lia tak meneruskan kata-katanya
“kenapa, cerita aja sama aku” ajakku
“sebenarnya aku tidak ingin ini terjadi, aku mau pindah di daerah Bandung karena orangtuaku ditugaskan bekerja di sana. Pasti aku akan kangen sekali denganmu, sahabatku” jelasnya
“pindah?? “ L
Keadaan mulai terlarut dalam kesedihan, berluluran air mata karena harus berpisah dengan sahabat yang membuat hidupku berarti. Kami saling berpelukan, seakan berpisah selamanya. Bagaimanapun juga kami selalu bersama, dalam suka dan duka, sebagai tempat curhat, dapatkan sebuah kasih sayang yang abadi.
“apakah kamu akan kembali?” tanyaku sambil menatap wajahnya
“aku tak tau”jawabnya
“andai ada jalan agar kamu tidak ikut pindah, pasti akan aku usahakan” kataku
“sudahlah, keputusan orangtuaku sudah bulat, jangan bersedih sobat suatu saat nanti pasti kita akan bertemu lagi” jelasnya, menenangkanku
Aku harus menerima keputusan sabahatku ini, mungkin ini jalan dari Tuhan yang mungkin akan ada hikmah dari semua ini.
¯   
Kini aku duduk di bangku SMP tetapi tidak bersama Lia lagi. Meskipun begitu, aku yakin suatu saat pasti aku bisa bertemu lagi dengan Lia. Aku sekolah di SMP Marga Jaya yang tak begitu jauh dari rumahku.sekarang, aku pergi sekolah tidak jalan kaki, tetapi dengan sepeda mini berwarna hijau yang disertai dengan keranjang didepannya. Dengan bel yang ku bunyikan setiap di persimpangan jalan “kring kring kring”
Pertama ku memasuki sekolah, aku melihat ada seorang cowok yang tampan. Biasa anak SMP jatuh cinta, tapi sering disebut cinta monyet. Memang aku belum mengenalnya, tapi tak ku sangka aku satu kelas dengannya. Aku masuk di kelas 7B, dan aku juga sudah mempunyai teman. Pelajaran pertama kali pasti berkenalan, satu persatu siswa memperkenalkan diri di depan kelas.
“perkenalkan nama saya aditya,  saya berasal dari SD Pelita Bangsa” perkenalannya di depan kelas
“suara nya bagus banget” kata dalam hati sambil senyum-senyum sendiri J
Degup jantungku berdegup kencang, bayangannya selalu ada dalam benak dan pikiranku. Lama-kelamaan aku pun mulai mengenalnya, orangnya baik, asyik, peduli terhadap sesama, rajin, dll. Tak heran jika aku sering bertemu dengannya di Perpustakaan, kami memiliki hobi yang sama yaitu membaca. Setiap ujian kenaikan kelas, aku duduk satu meja dengannya tetapi dengan kode soal yang berbeda. Sebelum ujian di mulai, ia suka menggodaku dengan memberikan sebuah permen padahal tinggal bungkusnya saja.
“huy, mau permen?” katanya padaku sambil mengulurkan sebuh permen
“boleh” kataku senang
Setelah ku ambil “uhh dasar ini kan tinggal bungkusnya” kataku dengan wajah manyun
“hahahahahahaha” dia tertawa lepas
“tapi,tak apa aku senang melihatnya tertawa seperti itu” kataku dalam hati
Selain itu, setiap ujian pasti ada kejadian-kejadian yang unik misalnya penghapus. Ia selalu mengambil penghapusku padahal penghapusnya belum dikeluarkannya. Mungkin ini memang biasa saja, tapi bagiku ini adalah kenangan yang mungkin tak dapat ku lupakan.
¯   
Tiga tahun sudah aku satu kelas dengannya. Kini aku melupakan sejenak tentang perasaanku dan focus pada Ujian Nasional yang sebentar lagi ku hadapi. Waktu berjalan cepat, hingga akhirnya Ujian nasional berlangsung dan hasilnya juga membanggakan. Alhamdulillah aku bisa meneruskan sekolah ku ke jenjang selanjutnya.
Kini, aku sekolah di SMA N 25 yang lumayan jauh dari rumahku. Hari pertama pendaftaran dari kejauhan ku lihat seorang cowok yang tak asing bagiku. Badannya yang agak tinggi, rambut jambulnya yang khas, dan gaya berjalan yang ku yakini itu adalah Aditya. Tak ku sangka aku satu sekolah lagi dengan cowok yang selama ini ku suka. Hingga akhirnya aku melihat pengumuman penerimaan siswa dan ternyata aku satu kelas dengan Adit.
1 bulan sudah aku berada di sekolah ini, hingga suatu hari ada murid baru di kelasku. Dan yang membuatku terkejut adalah murid baru itu sahabatku yang sudah 3 tahun berpisah. Betapa bahagianya aku, dapat bertemu lagi dengannya. Lega rasanya bisa bersatu lagi dengan sahabatku. Aku, Lia, dan Adit memiliki hobi yang sama yaitu membaca. Jadi tak heran jika kami bertiga se.lalu bersama, termasuk di perpustakaan. Berbulan-bulan sudah berlalu, hingga kami bertiga sudah saling mengerti sikap dan karakter masing-masing. Bagiku, bisa berteman atau bersahabat adalah suatu hal yang berharga.

Kebahagiaan, kebersamaan, dan kekompakan kami bertiga tak selalu berjalan lurus. Suatu hari semua itu menjadi sebuah perpecahan, saling tak kenal, bahkan tak saling bicara. Semua itu terjadi karena ada cinta segitiga antara aku, Lia, dan Adit (biasa anak SMA). Diam-diam Adit memiliki perasaan dengan ku. Dari dulu aku memang suka dengan Adit, tapi entah bagaimana rasanya setelah mengetahui bahwa sahabatku juga menyukainya. Lia menjauhiku karena masalah ini, bahkan bicara saja tidak. Berhari-hari aku berpikir tentang masalah ini, hingga aku memutuskan untuk menghapus perasaan ini pada Adit demi sahabatku.
Di dalam kamarnya, Lia pun merenung memikirkan masalah ini. Katanya dalam hati. Mungkin sebaiknya aku mengalah saja demi sahabatku, sahabat yang selama ini menjadi orangtua kedua ku lebih penting daripada memikirkan ebahagian diri sendiri. Dan ku lihat sepertinya Adit juga suka dengan Putri.(Lia mulai menyadarinya)
¯   
Keesokan harinya aku berangkat sekolah seperti biasa. Di atas mejaku terlihat sebuah kertas putih, seperti sepucuk surat. Yang ternyata dari Lia yang ingin bertemu di Taman Sekolah sepulang sekolah.
“Ini kesempatanku untuk meminta maaf pada Lia” gumamku
“tetttttttttt…….” bel pulang sekolah berbunyi
Ku lihat Lia keluar kelas lebih awal, segera ku menyusulnya. Sesampainya disana ku bertemu dengan Adit. Kami tak mengerti maksud semua ini. Tak ku lihat sosok Lia di sana. Pertanyaan-pertanyaan muncul dalam benakku, sebenarya ada apa ini? Dari kejauhan ku lihat sosok Lia yang berjalan menuju arahku dan Adit. Melihat gerak-geriknya seperti ada sesuatu yang penting. Teringat ketika Lia bicara padaku bahwa ia akan pindah, perasaanku mulai tak tenang.
“huy”sapanya sambil tersenyum
“huy” jawabku dan Adit
“udahlah jangan diam-diaman kayak gini, kan jadi tak enak suasananya” katanya membuat kami lebih tenang
“emmm…..sebelumnya aku minta maaf pada kalian berdua” katanya pelan
”soal apa?” jawabku dan Adit serentak
“kalian pasti tau kan maksudku?” kata Lia sambil memandang kami
“Adit, sebenarnya aku memang suka sama kamu. Tapi apa artinya jika cinta itu bertepuk sebelah tangan dan memecahkan sebuah persahabatan” jelasnya
“Putri sebenarnya suka sama kamu, begitu juga denganmu kan Adit?” tanya Lia pada Adit
“kalian saling jujur aja, bukankah itu lebih baik?”jelasnya lagi
(Kata-kata Lia membuatku dan Adit tak dapat bicara)
“Putri, sebenarya apa yang dikatakan Lia itu benar bahwa aku suka sama kamu” tiba-tiba Adit bicara
“udah, put terima aja” kata Lia sambil menyenggolku
“ta…tapi kamu??” tanyaku
“udah, masih banyak kok cowok yang lain, hehehe” jawab Lia sambil tertawa
“emm iya deh” jawabku menerima Adit
Sejak saat itu kami bersatu lagi, aku bersyukur memilki sahabat seperti Lia. Mungkin di tempat lain, tak ada yang seperti Lia sahabatku ini. Kejadian hari ini benar-benar memberiku sebuah pelajaran. Pelajaran yang berharga bahwa seorang sahabat sejati mampu mengorbankan perasaannya demi sahabatnya. Dan melihat orang yang di cintainya bahagia dengan sahabatnya. Kebahagiaan yang luar biasa, bisa bersama orang yang di cintai dengan tetap menyertai persahabatan di dalamnya. 

*****SELESAI*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar